The Crown (Dibalik Botak Kepalaku)

Botak kepalaku

Botak kepalaku

jika ditanyakan kepada setiap orang, apakah pentingnya menjaga rambut? sebagian dari kita (atau mungkin semuanya) akan mengatakan bahwa rambut adalah mahkota, apalagi jika yang ditanya adalah seorang perempuan. jika para lelaki tidak terlalu memikirkannya (sebagian memikirkannya), para perempuan biasanya akan melakukan apa saja (keramas, creambath, catok, atau apapun) untuk mendapatkan hasil tatanan rambut yang dibilang keren. bahkan para perempuan juga melayangkan protes pada kekasihnya tentang gaya rambut sang kekasih. itu semua dilakukan karena mereka memandang bahwa rambut adalah sesuatu yang istimewa. rambut adalah mahkota, the crown.

dengan memiliki tatanan rambut berbeda, seseorang bisa tampil sangat berbeda dari biasanya. saat pagi hari dan mentari telah memancarkan sinarnya, singkatnya saat bangun, orang-orang akan nampak berbeda (maksud saya nampak kusut dan kacau). dan saat berada di hadapan kekasih atau di depan bos besar atau saat melakukan presentasi, kita akan menampilkan tatanan rambut yang sempurna. ini adalah sebuah nilai yang wajar, karena manusia memang selalu menginginkan menjadi penting dengan tampil sempurna di hadapan semua orang.

berbicara mengenai rambut, baru-baru ini saya mempunyai gaya rambut baru yang bisa dibilang menyenangkan. gaya rambut ini merupakan gaya yang sudah lama sekali saya dambakan. namun karena gaya yang satu ini juga gaya rambut yang aneh, maka saya menundanya dan sekarang tersampaikan sudah hajat yang dulu tertahan. he.. ya, gaya rambut ini saya dapatkan setelah saya berjanji pada diri saya untuk memiliki gaya ini jika saya telah menyelesaikan ujian proyek akhir saya. dan betul saja, setelah ujian proyek akhir saya usai pada siang hari, saya segera menjalankan janji saya pada sore harinya. ya, gaya rambut baru saya adalah botak alias gundul.

sebenarnya, alasannya tidak sesederhana itu. bukan! ada beberapa alasan yang mendasarinya. alasan pertama adalah saya memang mendambakannya. seingat saya, model rambut saya tidak pernah seperti ini saat saya dewasa. jadi saya mendambakannya sejak duduk di kelas 2 high school hingga sekarang (umm..maksudku kemarin). alasan kedua adalah saya ingin menjadi rakyat jelata. lho?! bukannya saya memang rakyat jelata?! ya, dalam dunia nyata, saya memang rakyat jelata. namun dengan mahkota (rambut) yang ada pada diri saya, saya telah secara tidak langsung menjadi raja, entah untuk siapa. dan benar saja bahwa tidak mudah menjadi raja tanpa mahkota, namun saya menikmatinya.

saya masih ingat saat teman-teman juga para dosen (atau mereka yang bahkan tidak mengenalku) tertawa melihat botaknya seorang saiful ini. mereka biasa bermain dengan mengandaikan kepala saya sebagai sesuatu yang lain, misalnya mikrofon, atau saya dikatakan sebagai seorang biksu. bahkan, bekas luka di kepala yang berbentuk pesawat ini juga menjadikan mereka memunculkan ide. oh tenang saja, saya justru bahagia dan tidak pernah mempermasalahkannya. saya malah ikut tersenyum dan mengatakan pada diri saya; terima kasih Tuhan, Kau buat mereka tertawa dengan kehadiranku. artinya, aku bisa membuat mereka memunculkan kebahagiaan yang mungkin terpendam beberapa waktu lalu. sebuah anugerah yang jarang aku dapatkan.

sekarang, rambut saya telah tumbuh beberapa milimeter. he.. dan saya masih bisa membuat teman-teman saya tertawa yang saya bersyukur karena itu. dan bisa saya simpulkan dan saya buktikan, bahwa sesuatu yang baru akan selalu terlihat norak untuk sesaat.

~ by jalanqu on September 8, 2009.

2 Responses to “The Crown (Dibalik Botak Kepalaku)”

  1. Wah, keren…
    Salam kenal, saya Haqqi dari OSUM Leader Ma Chung…
    check this out:
    http://www.facebook.com/event.php?eid=141461086511&ref=nf

  2. rambut itu selera… tapi tak berambut itu juga selera :)

Leave a Reply